About Us

The Development of Kolintang in Indonesia

In 1962, we left Minahasa (a region in northern part of Sulawesi island) to pursue a higher education at the University of Gajah Mada in Yogjakarta (a college town in Central Java) with a “Kolintang” music instrument.This melodious instrument is made of wood pieces, arranged like piano tuts. The player hits small wooden sticks to each of the “bars” to play the melody. This instrument is usually played with guitar, ukulele (small traditional guitar) and string bass guitar.

We introduced this Kolintang instrument in Yogjakarta and many other cities in West and East Java. The response we received has been positive. Many requested that we fabricated the instruments for their own use. 

This certainly encourages us to start mass production of the Kolintang. After trying several types of wood material, we found that Waru wood(Hibiscus Tiliaceus) is more suitable to use in the Kolintang production. We started using this type of wood in our first production in 1964. We also found out that the best quality Waru wood is found nearby the Rawa Pening Lake in Salatiga. For this reason, we chose the town of Salatiga as the production center.

In addition to producing Kolintang, we also produce other accompanying instruments to replace guitar, “ukulele”, and string bass guitar. In 1969, we ensembled several wooden music instruments, including angklung in a concert performances. With these complete pieces, we sent an orchestra group to several overseas tours to promote this traditional music.

1970 Performed in Singapore for 3 days 1971 Performed in Australia for almost 3 months. We played in more than 50 cities and towns throughout Australia, including in Canberra with the Indonesian ambassador, Mr. Sujitno Sikirno.

1972 Performed in several cities in the United States for almost 2 weeks. We conducted concerts in several cities from New York to Los Angeles.

1973 Performed in Swiss, Germany, Denmark, Switzerland, Norway, and Amsterdam. Participated in the Independence’s Day celebration in Den Haag (Amsterdam) with the Indonesian ambassador, Mr. Sutopo Yuwono.

We produced Kolintang based on domestic and international orders, including those placed by the Indonesian diplomatic offices overseas. Along with the production, we continuously try to improve the quality of our products and expand the product lines. Our Kolintang products have experience improvements in term of voice ranges and sound quality. Currently, there are more Kolintang produced and played outside Minahasa than the place where it was originated. This trend shows that Kolintang belongs not just to the people of Minahasa, but to  Indonesian people as one of the national culture.

Salatiga  September 19 ,1999

Petrus Kaseke

 

 

 

 

Petrus Kaseke

 

 

Posted in Uncategorized | Comments Off

kolintang application

Posted in Uncategorized | Comments Off

Ministry of Trade Republic of Indonesia press release

kolintang press release

Posted in Uncategorized | Comments Off

Java Jazz Festifal 2012

java jazz festifal

Posted in Uncategorized | Comments Off

2012 Pricelist

There is a price adjustment kolintang angklung, following the 2012 price list.
for those who still have the old price (the 2011 price list ) are still valid until the end of February 2012.
We are at the Jakarta Jazz Festival 2012 on March 2-4, 2012, for the Jakarta Jazz Festival visitors can still use the old price for the transaction at the event.

Petrus Kaseke

——————————————————————-

Ada penyesuaian harga kolintang angklung ,mengikuti daftar harga 2012.
bagi yang masih memiliki harga lama yaitu daftar harga 2011 masih berlaku sampai akhir februari 2012.
Kami ada di acara Jakarta Jazz Festifal 2012 pada tanggal 2-4 maret 2012,bagi pengunjung Jakarta Jazz Festifal masih dapat menggunakan harga lama untuk transaksi pada acara itu.

Petrus kaseke

 

———————————————————————–

Posted in Uncategorized | Comments Off

Pelestari Kolintang

Petrus Kaseke, Pelestari Kolintang
Oleh : C Wahyu Haryo PS

Kolintang yang merupakan alat musik tradisional rakyat Minahasa sempat dilarang dimainkan pada masa penjajahan Belanda. Pasalnya, kolintang pada awalnya digunakan untuk mengiringi upacara ritual pemujaan arwah leluhur oleh masyarakat setempat.

Selama seabad lebih, eksistensi kolintang semakin terdesak dan hampir punah. Baru setelah Perang Dunia II, sekitar tahun 1952, seorang tunanetra bernama Nelwan Katuuk menghadirkan kembali instrumen musik ini lewat pagelaran musik yang disiarkan RRI Minahasa.

Permainan kolintang dari Nelwan Katuuk ternyata menginspirasi seorang bocah laki-laki berumur 10 tahun dari Ratahan, Minahasa Utara, untuk membuat alat musik kolintang. Cita rasa bermusik dari lingkungan keluarganya yang membentuk kepekaannya terhadap nada berpadu dengan keterampilan menukang kayu yang diperolehnya dari sang kakek.

Hasilnya, pada tahun 1954 sang bocah berhasil membuat kolintang dengan dua setengah oktaf nada diatonis. Dengan petunjuk sejumlah orang tua yang pernah mendengar bunyi alat musik kolintang, ia terus belajar dan mengembangkan instrumen ini hingga bisa menciptakan tangga nada sampai tiga setengah oktaf  pada tahun 1960.

Dialah Petrus Kaseke, putra tunggal Pendeta Yohanes Kaseke dan almarhum Adelina Komalig. Korelasi tingginya kepekaan terhadap nada dengan tingginya tingkat kecerdasan tampaknya terbukti pada diri Petrus Kaseke. Meski hidup dari keluarga kurang mampu, di usianya ke-20, Petrus meraih predikat pelajar berprestasi dan memperoleh beasiswa dari Bupati Minahasa untuk melanjutkan kuliah di Jurusan Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada.

”Beasiswa yang saya terima waktu itu Rp 1.000, hanya cukup untuk biaya kos dan makan selama tiga bulan. Di saat kondisi perekonomian sangat labil, inflasi meningkat tajam hingga ada kebijakan pemotongan uang Rp 1.000 menjadi Rp 1, saya bertahan hidup dengan main musik kolintang di Yogyakarta,” kenang Petrus, saat ditemui di rumahnya di Jalan Osamaliki 4 Salatiga, Jawa Tengah, pekan lalu.

Kala itu kolintang belum banyak dikenal di Pulau Jawa. Di luar dugaan, sambutan publik terhadap kehadiran kolintang yang diiringi gitar, ukulele, dan string bas ini ternyata luar biasa. Bahkan, kolintang saat itu sempat menjadi salah satu media kampanye Partai Kristen Indonesia (Parkindo) sehingga ia dan rekan-rekannya menerima banyak job bermain musik kolintang.

Beban hidup semakin berat, merantau seorang diri di tanah Jawa, sementara beasiswa dari bupati juga diputus. Setelah enam tahun dan baru meraih sarjana muda, Petrus terpaksa tak melanjutkan kuliahnya. Kondisi ini justru membuat Petrus semakin berketetapan hati menggeluti alat musik kolintang. ”Saya memulai usaha membuat kolintang bermodalkan ’dengkul’. Uang yang saya peroleh selama mementaskan kolintang, saya gunakan untuk modal usaha,” kata suami dari Tjio Kioe Giok (62) ini.

Waktu terus berlalu, usaha Petrus semakin berkembang. Ia juga memiliki kelompok musik yang sudah pentas melanglang ke berbagai negara di dunia, seperti Singapura (1970), Australia (1971), Belanda dan sekitarnya, hingga di Jerman Barat (1972), Amerika Serikat dan Inggris (1973), serta Swiss, Denmark, Swedia, dan Norwegia (1974). Pada tahun-tahun itu pula, ia hijrah ke Salatiga dan membangun usahanya di sana.

”Bahan baku kolintang berupa kayu waru mudah didapatkan di sekitar Rawapening sehingga saya memilih membuka usaha di Salatiga. Kayu ini kualitasnya tidak kalah dengan kayu telur, bandaran, wenang, dan kakinik dari Minahasa. Selain ringan, serat kayunya cukup padat dan membentuk garis sejajar sehingga menghasilkan bunyi yang nyaring,” ujar bapak dua anak, Leufrand Kaseke (26) dan Adeline Kaseke (22).

Di era 1989 hingga 1990-an, alat musik kolintang sangat populer bagi masyarakat di dalam negeri maupun luar negeri. Pembuat kolintang pun mulai menjamur. Dalam sebulan Petrus bisa melayani pembuatan alat musik kolintang hingga 10 set. Kala itu ia bisa mempekerjakan sekitar 20 tukang kayu untuk membuat instrumen ini.
Pemesanan dari luar negeri terus mengalir, antara lain dari Australia, China, Korea, Hongkong, Swiss, Kanada, Jerman, Belanda, dan Amerika Serikat. Hampir semua kedutaan besar Indonesia di dunia mengoleksi alat musik kolintang buatannya.

Era krisis moneter akhir tahun 1990 ternyata juga menandai jatuhnya industri alat musik kolintang. Satu per satu perusahaan alat musik kolintang rontok, bangkrut. Petrus menjadi salah satu dari sekian perajin alat musik kolintang yang masih bertahan meski pemesanan anjlok, hanya berkisar 1-2 set per bulan.

”Dari sisi harga, kolintang yang saya jual memang relatif lebih mahal daripada produksi di pasaran.  Namun, ketepatan nada dan kualitas bunyi menjadi resep Petrus masih bisa bertahan usahanya hingga saat ini. Bahkan saat ditemui di rumahnya, ia tengah menyelesaikan pesanan dari Australia.

”Ketepatan nada masih bisa tertolong dengan adanya komputer pengukur nada. Tetapi, untuk kualitas bunyi, tetap perlu kepekaan telinga dan keahlian memilih bahan baku. Meski nada sudah tepat, bila kualitas bunyinya tidak baik, batang kayu tersebut langsung saya buang,” kata pria kelahiran Ratahan, 2 Oktober 1942, ini.

Kepiawaian Petrus membuat alat musik tradisional Minahasa yang hampir punah ini memang belum pernah mendapat penghargaan yang sebanding dengan sepak terjangnya selama ini. Ia memang bukan satu-satunya perajin alat musik kolintang yang masih bertahan. Namun, di tangan dia jua, alat musik ini mulai merebak ke Pulau Jawa dan merambah seantero dunia.

Sumber : Kompas, Rabu, 15 Maret 2006
rewrite by Markus

Posted in Uncategorized | Comments Off

Delivery

For overseas shipment, the requirements from country of export destinations are slightly different.

It is necesarry to correspondence via email or by phone.

Buyers can choose from several alternative package delivery service such as:
FdEx, DHL, Post Office, Forwarders or other package delivery service.

There are 2 kinds of package delivery: by ships or by plane .
Also the type of delivery in example:”Door to door package” or “Port to Port” ,can affect the price of postage

———————————————————————————————-

Ada beberapa cara yang biasa dilakukan dalam penyerahan barang:

1.Exwork (barang di ambil di workshop)

  • Pembeli  mengambil sendiri di workshop kami ,dengan kondisi tidak perlu di packing
  • Pembeli mengambil sendiri di workshop kami,tetapi minta di packing karena akan dikirim lagi ketempat lain

2.Dikirim ke tempat pembeli melalui perjalanan darat di pulau jawa.

  • Pembeli memilih jasa pengiriman dengan kendaraan perusahaan kami ,berikut jasa pemasangan barang di lokasi pembeli oleh teknisi kami

3.Dikirim ke tempat pembeli  untuk kiriman domestik dan luar negeri.

  • Pembeli memilih jasa pengiriman paket , seperti pelayanan kantor pos , DHL,Titipan Kilat ,Elteha ,Cobra atau jasa pengiriman paket yang lain
  • Jenis pengiriman paket ada 3 macam , via darat , laut atau udara yang mempengaruhi harga ongkos kirim.
  • Untuk pengiriman ke luar negeri , ada persyaratan persyaratan dari negara tujuan ekspor yang berbeda beda ,oleh sebab itu di perlukan korespondensi melalui email atau telpon.

 

 

Posted in Order | Comments Off

Protected: Bank Account

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Posted in Order | Comments Off

Payment Method

The usual payment systems as follows:

  • Down Payment: 20 percent of goods , at the time of order.
  • Final payment : before goods are sent through the mail / packages.
  • If your shipping address affordable by our vehicles, final payment can be done in place of the item is sent.

We accept 3 types of payment:

  1. Through bank: Telegraphic Transfer
  2. Through fund transfer agent: Money Gram & Western Union
  3. Through Paypal / credit card

Click here to find our Bank Account

——————————————————————————————

Sistim pembayaran yang kami lakukan adalah sebagai berikut:

  • Down Payment senilai 20 persen barang yang dipesan , pada saat pemesanan.
  • Pelunasan pembayaran berikut ongkos kirimnya ,sebelum barang dikirim melalui pos /paket.
  • Apabila alamat pengiriman terjangkau oleh kendaraan kami,pelunasan dapat dilakukan di tempat barang tersebut di kirim.

Kami menerima 3 jenis cara pembayaran:

  1. Melalui transfer Bank
  2. Melalui Agen pengiriman uang : Money Gram & Western Union
  3. Melalui Paypal / kartu kredit

Klik disini untuk mengetahui Account Bank kami

 

Posted in Order | Comments Off