angklung

The Development of Kolintang in Indonesia

January 20th, 2009

The Development of Kolintang in Indonesia
In 1962, we left Minahasa (a region in northern part of Sulawesi island) to pursue a higher education at the University of Gajah Mada in Yogjakarta (a college town in Central Java) with a “Kolintang” music instrument.This melodious instrument is made of wood pieces, arranged like piano keys. The player hits small wooden sticks to each of the “keys” to play the melody. This instrument is usually played with guitar, ukulele (small traditional guitar) and string bass guitar.

We introduced this Kolintang instrument in Yogjakarta and many other cities in West and East Java. The response we received has been positive. Many requested that we fabricated the instruments for their own use.

This certainly encourages us to start mass production of the Kolintang. After trying several types of wood material, we found that “waru wood” is more suitable to use in the Kolintang production. We started using this type of wood in our first production in 1964. We also found out that the best quality Waru wood is found nearby the Rawa Pening Lake in Salatiga. For this reason, we chose the town of Salatiga as the production center.

In addition to producing Kolintang, we also produce other accompanying instruments to replace guitar, “ukulele”, and string bass guitar. In 1969, we ensembled several wooden music instruments, including angklung in a concert fashion. With these complete pieces, we sent one orchestra on several overseas tours to promote this traditional music.

1970 Performed in Singapore for 3 days 1971 Performed in Australia for almost 3 months. We played in more than 50 cities and towns throughout Australia, including in Canberra with the Indonesian ambassador, Mr. Sujitno Sikirno.

1972 Performed in several cities in the United States for almost 2 weeks. We conducted concerts in several cities from New York to Los Angeles.

1973 Performed in Swiss, Germany, Denmark, Switzerland, Norway, and Amsterdam. Participated in the Independence’s Day celebration in Den Haag (Amsterdam) with the Indonesian ambassador, Mr. Sutopo Yuwono.

We produced Kolintang based on domestic and international orders, including those placed by the Indonesian diplomatic offices overseas. Along with the production, we continuously try to improve the quality of our products and expand the product lines. Our Kolintang products have experience improvements in term of voice ranges and sound quality. Currently, there are more Kolintang produced and played outside Minahasa than the place where it was originated. This trend shows that Kolintang belongs not just to the people of Minahasa, but to the Indonesian people as one of its national cultures.

petrus-kaseke
Petrus Kaseke

Kolintang

January 20th, 2009

Kolintang, alat musik Minahasa yang mendunia

Alat musik kolintang termasuk jenis instrument perkusi yang berasal dari Minahasa Sulawesi Utara.
Alat musik itu disebut kolintang karena apabila di pukul berbunyi : Tong-Ting –Tang.
Pada mulanya kolintang hanya terdiri dari beberapa potong kayu yang diletakkan berjejer diatas kedua kaki pemain yang duduk selonjor di lantai.dan dipukul pukul.
Fungsi kaki sebagai tumpuan bilah bilah kayu(wilahan/tuts) kemudian diganti dua potong batang pisang atau dua utas tali.
Konon penggunaan peti resonator sebagai pengganti batang pisang mulai di gunakan sesudah Pangeran Diponegoro di buang ke Menado (tahun 1830) yang membawa serta “gambang” gamelannya.

Penggunaan kolintang erat hubungannya dengan kepercayaan rakyat Minahasa,yang biasanya dipakai dalam upacara upacara pemujaan arwah arwah para leluhur.
Dengan berkembangnya agama Kristen yang di bawa oleh misionaris misionaris Belanda,eksistensi kolintang yang merupakan bagian dari kepercayaan animisme menjadi demikian terdesak bahkan hampir punah,menghilang selama lebih dari 50 tahun.
Setelah perang Dunia II,kolintang muncul kembali dipelopori oleh Nelwan Katuuk, seniman tuna netra asal Minahasa bagian utara yang merangkai nada kolintang menurut skala diatonis.

Pada tahun 1952,di Minahasa bagian selatan (Ratahan) seorang anak berusia 10 tahun bernama Petrus Kaseke,terinspirasi membuat kolintang dengan dasar petunjuk orang orang tua yang pernah melihat kolintang dan dari mendengar suara musik kolintang yang di populerkan lewat siaran RRI Minahasa yang di mainkan oleh Nelwan Katuuk.
Sulitnya hubungan transportasi antara Minahasa bagian utara dengan Minahasa bagian selatan pada waktu itu tidak meluruhkan semangat putra pendeta Yohanes Kaseke dan almarhum Adelina Komalig untuk berkreasi tanpa melihat contoh, dengan bermodal potongan potongan kayu bakar yang diletakkan di atas dua batang pisang dan di tuning (stem) nada natural dengan rentang nada 1 oktaf.

Sebuah prestasi yang luar biasa jika pada tahun 1954 ,Petrus Kaseke yang kala itu masih terbilang bocah mampu membuat kolintang dua setengah oktaf nada diatonis dengan peti resonator.Kemampuannya terus terasah dan berkembang,terbukti pada tahun 1960 berhasil meningkatkan rentang nada menjadi tiga setengah oktaf yang dimainkan oleh dua orang pada satu alat.

Bersamaan dengan bea siswa dari Bupati Minahasa untuk meneruskan kuliah di Universitas Gajah Mada Yogyakarta pada tahun 1962,suami dari Endang soetjiowati terus mengembangkan alat musik kolintang dengan mengganti jenis jenis kayu wilahan yang ada di Minahasa seperti kayu Telur,Bandaran,Wenang ,Kakinik dengan kayu yang ada di pulau Jawa yang menghasilkan kwalitas nada yang sama yaitu kayu Waru.
Kolintang mulai diproduksi untuk di jual pada tahun 1964,sambil dipopulerkan melalui pentas pentas kolintang keliling Jawa Tengah ,Jawa Timur dan Jawa Barat,dengan membentuk kelompok musik

Waktu terus berlalu,usaha dari bapak dua anak Leufrand Kaseke dan Adelina Kaseke semakin berkembang.
Kelompok musik yang dibentuknya sudah pentas melanglang ke berbagai negara di dunia,
Mulai tahun 1972 hingga sekarang,ia tinggal Salatiga Jawa Tengah dan membangun usahanya,dimana bahan baku kolintang berupa kayu Waru mudah di dapatkan di sekitar Rawa Pening Salatiga.
Pemesanan dari luar negeri terus mengalir,antara lain dari Australia,China,Jepang,Korea,Hongkong,Swiss,Kanada,Jerman,Belanda,Amerika bahkan Negara Negara di Timur Tengah.
Hampir semua kedutaan besar Indonesia di dunia mengkoleksi alat musik kolintang buatan Petrus Kaseke.

Inovasi terus menerus dari Petrus Kaseke dan pengrajin kolintang lainnya sudah menempatkan kolintang setara dengan instrument musik moderen popular seperti gitar,biola ,piano,xylophone dan marimba.Sehingga agar dapat dikategorikan alat musik etnis tradisional, kolektor dan distributor alat musik etnis Asia dari Korea,harus memesan kolintang dengan desain yang khusus,yang lebih mengesankan kuno.
Jaman sekarang kolintang sudah merupakan alat musik yang tidak asing lagi bagi penduduk Indonesia pada umumnya,dengan penyebarannya di sekolah sekolah,gereja dan perkumpulan lainnya,instansi instansi pemerintah juga seringnya festival festival dan lomba kolintang baik tingkat daerah maupun tingkat nasional ditambah pula era globalisasi dan internet membantu mempopulerkan kolintang keseluruh dunia.

( Markus Sugi)